Apa itu Cobamism (CBM)?
Cobamism adalah istilah hubungan sepasang kekasih yang hubungannya jarak jauh (LDR) namun jarang komunikasi, tetapi sepasang kekasih ini tetap berstatus pacaran.
Cobamism adalah istilah hubungan sepasang kekasih yang hubungannya jarak jauh (LDR) namun jarang komunikasi, tetapi sepasang kekasih ini tetap berstatus pacaran.
Yang dimaksud dengan jarang komunikasi di sini adalah mereka yang sesekali komunikasinya berjalan lancar, tidak pernah absen satu haripun. Namun tiba-tiba berselang beberapa minggu dengan komunikasi yang lancar itu, sepasang kekasih ini tiba-tiba diam tanpa alasan, ada/tidaknya perselisihan
Si lelaki enggan menyapa wanitanya pada keesokan hari karena beberapa alasan di antaranya:
1. Sibuk dengan aktivitasnya.
2. Malas untuk menghubungi si wanita.
3. Merasa bosan seketika dengan wanitanya (mood-moodan).
4. Kesal dengan wanitanya.
5. Atau dia punya gebetan lain alias playboy.
1. Sibuk dengan aktivitasnya.
2. Malas untuk menghubungi si wanita.
3. Merasa bosan seketika dengan wanitanya (mood-moodan).
4. Kesal dengan wanitanya.
5. Atau dia punya gebetan lain alias playboy.
Karena si wanita sudah terbiasa menerima sapaan dari lelaki terlebih dahulu, dengan sifat yang dimiliki wanita umumnya yaitu "gengsi". Wanitapun enggan menyapa lelakinya, namun di kepala wanita menggelayang bertubi-tubi pikiran negatif "kemana nih orang?", "apa udah ga inget kalo gue nungguin elo", "sms, chat, bm gue dong", "astaga gue dianggurin", "yaudah, lu diem, gue juga diem", blablabla....
Ternyata lelaki tidak diam untuk hari itu saja, malah dia diam untuk ke esokan harinya lagi, dan selalu begitu hingga batas waktu yang tidak logika (seminggu, dua minggu, sampai-sampai lebih sebulan).
Dalam waktu yang tidak logika itu, si lelaki malah menunjukkan hal-hal yang paling dibenci wanita yaitu update di sosmed setiap hari, tapi tidak pernah menghubungi si wanita.
"Buat ganti dp aja lu bisa, buat nulis hai sama gue aja ogah!", "dasar cowo, apa gaada waktu buat hubungin gue", "woii, elu kemana? Udah seminggu lebih gaada kabar, tapi lu update terus", "apa dia punya cewe lain? Tampang playboynya udah keliatan ko", blablabla...
"Buat ganti dp aja lu bisa, buat nulis hai sama gue aja ogah!", "dasar cowo, apa gaada waktu buat hubungin gue", "woii, elu kemana? Udah seminggu lebih gaada kabar, tapi lu update terus", "apa dia punya cewe lain? Tampang playboynya udah keliatan ko", blablabla...
Di sinilah terjadi konflik bathin yang berlarut-larut. Namun si wanita tetap gengsi untuk menghubungi lelakinya terlebih dahulu. Sampai pada titik jenuh, dan si wanita tidak tahan dalam keadaan seperti itu terus dan memberanikan diri untuk menghubungi lelakinya.
"Hai"
"Hai"
Tiba-tiba dibalas lelakinya, betapa berbunga dan senang tak terkira hati wanita tersebut. Dan pikiran negatif terhadap lelakinya hilang seketika, namun beberapa saat kemudian si wanita malah memarahi lelakinya dan menuntut ini itu dengan alasan tak pernah menghubunginya.
Namanya saja lelaki, di dalam kepalanya sudah terdikte seribu satu jurus untuk menenangkan hati wanitanya.
Minta maaf dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi, memberi alasan ini itu yang kalau dipikirkan kembali ada yang masuk akal ada juga yang tidak, namun si wanita tetap berusaha percaya agar hubungannya tidak rusak. Hubungan kembali harmonis dan mesra. Dan komunikasi kembali berjalan lancar.
Namanya saja lelaki, di dalam kepalanya sudah terdikte seribu satu jurus untuk menenangkan hati wanitanya.
Minta maaf dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi, memberi alasan ini itu yang kalau dipikirkan kembali ada yang masuk akal ada juga yang tidak, namun si wanita tetap berusaha percaya agar hubungannya tidak rusak. Hubungan kembali harmonis dan mesra. Dan komunikasi kembali berjalan lancar.
Komunikasi yang lancar itu juga tidak bertahan lama. Kejadian yang sama terulang kembali, dan selalu saja begitu. Namun di antara pasangan ini susah sekali untuk menyatakan kata putus dan hubungan mereka mampu bertahan lama (1, 2, 4 tahun, bahkan lebih).
-MiaEfendi-