Rabu, 13 Februari 2013

Sesosok Yang Telah Meninggalkanku



            Seperti biasa bangun pagi, shalat, sarapan dan berangkat ke sekolah. Seperti biasa juga handphone gak pernah ketinggalan. Pagi ini sepertinya tak sempat sarapan karena selain tidak lapar, waktupun terus berjalan. Tiba-tiba satu pesan di hp yaitu sms dari teman dekatku sejak SD dulu, Rini namanya. hati tak tenang, jantung berdetak lebih kencang, tak biasa keadaanku saperti ini saat ada pesan datang.
            Perlahan tanganku gemetaran seperti ada yang mengganjal. Pesan pun terbuka kaget pun bercampur tidak percaya. Pesan itu berisi kalau teman dekatku sekaligus sahabat terbaikkku telah tiada. Kecelakaan semalam merenggut nyawanya kata Rini dalam sms itu. Aku yang sedang berdiri membaca pesan itu tertunduk lemas membacanya. Aku pun terus memarahi Rini seakan yang ia katakan itu mangada-ada dan tidak benar adanya. Lalu aku bergegas membalas pesan pesan itu. Tapi tidak ada jawaban.
            Putra yang 2 tahun lalu telah menjadi tempat curhatku, dan kita selalu berbagi. Ternyata tiba-tiba ibuku masuk kedalam rumah dan mengatakan hal yang sama.
            Dari itu barulah aku bisa percaya, tapi itu seperti mimpi buruk dan aku ingin cepat-cepat dari mimpi yang sangat kutakutkan itu. Ternyata ini bukanlah mimpi semata, ini nyata. Fakta pun berbicara karena aku tak pernah bermimpi seperti itu.
            Sesampai di sekolah teman-teman menyapa tapi tak ada respon dari mulutku. Dan mereka semua bertanya “kamu kenapa mia?” tetap aku tidak menjawab. Lalu waktunya pulang, bel pun berbunyi. Belajar pun aku tak fokus, pikiranku tatap pada sesosok orang yang sangat berarti bagiku.
            Putra hari ini akan dimakamkan setelah shalat zhuhur. Kebetulan aku cepat pulang. Namun ternyata bus sekolah sangat lama, membuat hatiku tak sabaran untuk melihat pemakaman putra, sekaligus melihat wajahnya untuk yang terakhir kali.
             Setelah 30 menit baru bus tersebut jalan dan aku pun bergegas pulang. Saking lamanya bus tersebut, ternyata putra telah dimakamkan. Sesampainya di rumah Rini menjemputku dan aku hanya bisa melihat makam putra.
            Seorang anak kecil menceritakan tentang peristiwa yang telah membuat putra pergi. 
Putra bersama temannya semalam mencari nasi goreng karena mereka sudah lama tidak makan diluar. Ternyata tiba-tiba motor yang dikendarai temannya tabrakan dengan sebuah mobil. Putra pun jatuh dan dadanya terluka kena goresan aspal. Darah pun mengalir dari telinga, hidung, mulut dan bagian dadanya. Akhirnya putra sudah menemui ajal di tempat kejadian, sedangkan temannya sedang kritis saat itu“ kata anak tersebut bercerita.
            Kini sudah tidak ada canda tawa, tempatku bercerita, tak ada yang selalu mengingatkan shalatku di waktu subuh.
Semoga kau selalu tenang di alam yang berbeda teman :')

Selasa, 12 Februari 2013

Kepergianmu Masih Membekas

                                   

                  3 Hari berlalu kepergiannya, Putra sesosok wajah yang tak pernah ku lupa. Dia telah tiada, selamanya. Dia telah berada di alam yang berbeda. Sampai saat ini aku merasa masih bermimpi dan tak pernah bisa percaya. Seperti biasa aku sebagai remaja mesjid bersama dengan yang lain, setelah 3 hari jika ada seseorang yang meninggal, acara rutin kami adalah pergi takziah untuk mendoakan seseorang yang telah pergi dan tak kembali. Acara ini selalu kami adakan pada malam hari.

            Senin siang, tak sabar aku menunggu datangnya malam untuk mendoakan, pergi ke rumah Putra bersama remaja lainnya. Akhirnya malam pun datang. Magrib telah berlalu dan kami pergi ke rumah almarhum Putra untuk mendoakannya. Sesampainya di rumah, lantunan ayat-ayat yasin pun berkumandang. Irama yasin serentak kami ikrarkan untuk sahabat tercinta yang telah tiada.

            Dari awal ayat ku ikuti dengan tenang sampai akhir ayat dan membaca “shadaqallah“ sekilas terlihat gambar pada sebuah bingkai, air mataku seolah tak tertahankan, itu foto Putra. Semua teman-teman remaja meneteskan air mata. Aku tetap tegar dan menahan sesak di dada karena menghalangi air mata yang akan keluar.

            Rini memberikan foto tersebut ke tanganku, foto Putra. Namun aku tak sanggup melihatnya. Lantunan ayat suci yang dibacakan ku berikan untuk seseorang yang sangat ku sayangi, sahabatku tercinta.

            Waktu pun berjalan tak ada sepatah kata pun yang kuucapkan. Rini yang menangis mengakhiri air matanya pun mengajakku berbicara, namun tak ada satu pun responku kepadanya.

            “Ini hanyalah mimpi, besok jika aku kembali Putra pasti ku lihat di ruang sablon itu, bangunkan aku Tuhan, jangan terlalu lama engkau ambil dia."

        Ternyata tak pernah aku bisa terbangun dari mimpi itu, karena itu adalah fakta yang takkan pernah bisa memutar waktu. Selesailah acara takziah di rumah kediaman almarhum Putra. Tetap cerita yang dilontarkan hanyalah kesedihan.

            Sebenarnya aku tau jika banyak yang bersedih atas kepergian seseorang, yang meninggalkan akan sangat terbebani dengan kesedihan itu. Dan aku tak ingin itu terjadi pada Putra yang telah pergi. Aku akan berfikir positif terhadap Tuhan bahwa yang Ia ciptakan pasti akan kembali pada-Nya, dan hanya Dia yang berhak mengambil yang Ia punya.

            SELAMAT JALAN TEMAN ...